Beranda Opini Akar Gerakan Wakaf Uang dan Penguatan Ekonomi Umat

Akar Gerakan Wakaf Uang dan Penguatan Ekonomi Umat

118
0

Oleh: Mujahidin Nuryadi, Anggota Komisi Infokom MUI
 
Apabila Anda pernah berziarah ke Madinah, biasanya seorang muthawif (pemandu) akan memandu untuk berkunjung ke Masjid Quba, terletak dua mil atau sekira 5 km dari pusat kota Madinah. Masjid Quba memiliki 19 pintu, dibangun pada 1 Hijriyah/622 M di atas sebidang tanah wakaf pada masa Rasulullah SAW. Inilah saksi historis pertama kali praktik dan implementasi ajaran Wakaf dalam Islam (LIPI, 2004).
 
Rasulullah SAW bersama kaum muhajirin datang dari arah Makkah. Sebelum tiba di kota Madinah, rombongan ini singgah terlebih dahulu di daerah Quba selama empat hari. Rasulullah SAW bahu-membahu bersama para sahabat yang lain membangun masjid. Alquran sendiri mengabadikan proses pembangunan tersebut. Allah SWT berfirman:


لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
 

“Sungguh masjid yang didirikan atas dasar ketakwaan sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS at-Taubah: 108).
 
Sejarawan mencatat, tanah wakaf yang digunakan untuk Masjid Quba adalah milik Kultsum bin Hadam. Sebelumnya tanah itu difungsikan untuk mengeringkan kurma. Ibnu Hadam pun memeluk Islam sebelum Rasulullah tiba di Yatsrib (Madinah). Rumah Ibnu Hadam itu juga menjadi tempat menginap Rasulullah, karena setiap tujuh hari sekali Rasulullah mengunjungi Masjid Quba.
 
Enam bulan setelah membangun Masjid Quba, Rasulullah dan para sahabat juga membangun Masjid Nabawi di pusat kota Yatsrib. Tanah yang digunakan untuk Masjid Nabawi ini juga tanah wakaf milik Bani Najjar. Hal ini berdasar sebuah hadits riwayat Imam Bukhari. Rasulullah SAW bersabda:

 يا بَنِي النَّجَّارِ ثامِنُونِي حائِطَكُمْ هذا فقالوا لا واللَّهِ، لا نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إلَّا إلى اللَّهِ

 “Wahai Bani Najjar! Juallah kebunmu ini kepadaku! Namun Bani Najjar berkata, “Tidak kami jual. Demi Allah, tidaklah kami jual tanah ini kecuali untuk Allah.” (HR Bukhari).

Baca selengkapnya di mui.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here